Teman-teman, tahukah kalian apabila para Fankui menyebut kita “CINA” (tanpa H) itu ada indikasi menghina kita? Bagaimana kalau kita menggunakan istilah TIONGHOA saja dan tak perlu memakai kata “CINA” yang punya makna peyoratif demikian?
Bahkan, surat kabar JAWA POS di Surabaya, dan media-media di lingkungan Grup Jawa Pos, selepas Reformasi 1998 menghidupkan lagi istilah Tionghoa, Tiongkok, Republik Rakyat Tiongkok alias RRT. Istilah CINA tidak boleh dipakai karena dianggap menghina warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
Kalau pakai ‘H’ menjadi CHINA, sehingga dibaca ala bahasa Inggris, itu masih boleh walaupun kurang tepat. Dan itu yang dipakai harian Kompas. Pakai CINA (tanpa ‘H’), apalagi CINO (ala orang Jawa umumnya) dirasa sebagai penghinaan luar biasa. Tak mudah memang, mengubah kebiasaan ber-CINA ria, meski dianggap baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengan ber-TIONGHOA atau ber-TIONGKOK ria.
Hampir tiap hari ada saja teman-teman bercanda seputar CINA, TIONGHOA, TIONGKOK. Dan masih banyak wartawan atau redaktur yang belum bisa memahami di mana letak penghinaan manakala kita menggunakan kata CINA. Djono Antowijono alias Liem Oe Yen, pengurus teras Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia (PMTI) pun pernah menjelaskan hal ini, dan beberapa teman wartawan, tentang pentingnya ‘memahami perasaan’ orang Tionghoa.
“Gunakan TIONGHOA, jangan CINA. Kami selalu pakai RRT, Republik Rakyat Tiongkok, bukan RRC, Republik Rakyat Cina. Kalian sebagai wartawan, tolong sosialisasikan istilah yang benar kepada masyarakat. Organisasi kami PMTI, paguyuban masyarakat Tionghoa Indonesia, bukan Paguyuban Masyarakat Cina Indonesia,” jelas Liem, pengusaha besi lonjoran di kawasan Kembang Jepun.
Tetapi sayangnya kalau sesama Tionghoa sebut “CINA” seakan-akan tidak masalah. Masalah istilah ‘CINA’ ini sepenuhnya merupakan masalah politik antagonis Orde baru yang dipicu oleh Seminar Angkatan Darat ke-2 yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1966, pada waktu itu, wakil panglima AD Panggabean dalam laporan kesimpulan Seminar pada Suharto, pimpinan Kabinet menyatakan: “Demi memulihkan dan keseragaman penggunaan istilah dan bahasa yang dipakai secara umum diluar dan dalam negeri terhadap sebutan negara dan warganya, dan terutama menghilangkan rasa rendah-diri rakyat negeri kita, sekaligus juga untuk menghilangkan segolongan warga negeri kita yang superior, kami melaporkan pada yang mulia, keputusan seminar untuk memulihkan penggunaan istilah “Republik Rakyat Tjina” (Zhi Na Ren Min Gong He Guo 支那人民共和国) dan “warga negara Tjina” (Zhi Na Gong Min 支那公民), sebagai pengganti sebutan “Republik Rakyat Tiongkok” dan warga keturunannya". Dari segi pandang sejarah dan masyarakat Fankui yang dibodohi pemerintah, keputusan tersebut dinilai tepat.
Padahal, tahukah kalian dari manakah etimologis kata CINA itu? Istilah CINA itu pada dasarnya adalah hinaan yang pertama kali dilontarkan bangsa Jepang saat mereka menduduki Tiongkok di tahun 1937 sampai 1945, dimana saat itu juga tengah terjadi perang antara Republic of China melawan Empire of Japan. Saat itu Jepang menyebut orang Tionghoa sebagai “Zhi Na” (kanji : 支那 atau hiragana : しな) yang berarti juga “Dong Ya Bing Fu 東亞病夫” atau “Pesakitan Asia Timur”. Bila kalian pernah menonton film silat patriotik Tiongkok berjudul “Jing Wu Men 精武門”, mungkin kalian tahu betapa jahanamnya Jepang saat itu merendahkan Tionghoa. Istilah makian “Zhi Na” ini kembali dipopulerkan oleh Jepang kepada budak Fankui jajahannya saat mereka menginvasi kepulauan Nusantara tahun 1942. Jelas saja istilah ini diterima para Fankui dengan hangat, karena saat itu pun Fankui membenci Tionghoa yang dianggap pro-Belanda. Lalu diserap menjadi kata “CINA (tanpa H)” dalam bahasa Melayu.
Seiring bermunculan tindak provokatif Anti-Tionghoa dari pemerintah, maka kata kata CINA ini berkembang pula di dalam berbagai bahasa local etnis suku Fankui. Sebut saja dalam bahasa Jawa ada beberapa istilah rasis yang melecehkan Tionghoa seperti :
● “CINO” yang berarti CINA dalam pelafalan Jawa, istilah umum mengarah pada Tionghoa.
● “CIDUK” yang berarti CINA DALADUK (bodoh).
● “CINERE” yang berarti CINA KERE (miskin).
● “CIKEN” yang berarti CINA KENTIR (dungu).
● “CINA LOLENG” yang mengejek bentuk mata sipit Tionghoa.
Ada juga istilah rasis disertai omongan cabul yang berasal dari bahasa daerah Fakui lainnya, missal :
● “CINO” dalam bahasa Melayu Palembang-Jambi, yang berarti CINA NONOK (vagina). Di Palembang istilah ini dipakai oleh Fankui dan Qiaosheng untuk menghina Tionghoa yang mereka anggap “pelit”.
● “CINKO” yang sering diucapkan Fankui Betawi, yang berarti CINA KONTOL (penis).
Lebih ironis lagi, malah ada istilah serapan dari bahasa Tionghoa yangmalah dipakai Fankui untuk merendahkan kita orang Tionghoa, seperti :
● “SINGKEK” yang berasal dari bahasa Hakka “Sing Kek 新客“ yang berarti “tamu baru”, namun oleh para Fankui dianggap artinya adalah “tamu numpang hidup”.
● “AKEW” yang berasal dari bahasa Hakka “Ah Kew 阿狗“ yang berarti “Si Anjing”, dipakai oleh Fankui pembantu yang pernah kerja di Tionghoa, untuk memaki lelaki Tionghoa. Istilah “AKEW” ini merupakan plesetan dari “A Ko 阿哥”, sebutan umum untuk lelaki Tionghoa.
● “AKEW” yang berasal dari bahasa Hakka “Ah Kew 阿狗“ yang berarti “Si Anjing”, dipakai oleh Fankui pembantu yang pernah kerja di Tionghoa, untuk memaki lelaki Tionghoa. Istilah “AKEW” ini merupakan plesetan dari “A Ko 阿哥”, sebutan umum untuk lelaki Tionghoa.
● “AMOY” yang berasal dari bahasa Hakka “Ah Moy 阿妹“ secara harafiah adalah kata sebutan umum untuk wanita Tionghoa, namun karena wanita Tionghoa umumnya bermuka imut dan berkulit putih mulus, maka sosok ini dijadikan fantasi cabul Fankui, maka makna “AMOY” ini pun meluas menjadi wanita pelacur atau wanita nakal (dari ras manapun) yang berkulit putih mulus dan bermuka imut.
Selain itu di kalangan Fankui konglomerat, anak pejabat, atau ningrat Jawa yang pernah bersekolah di luar negeri, para Fankui juga mengadopsi ejekan bahasa Inggris untuk memaki Tionghoa ke dalam bahasa sehari-hari mereka, misalnya :
● “CHINK” yang berarti “orang dinasti Qing”, saat itu para Bule beranggapan kalau dinasti Qing adalah aib dalam sejarah dinasti Tiongkok, sehingga mereka menyebut orang Tionghoa adalah “orang dinasti Qing” yang bobrok.
● “CHING CHONG CHUNG” yang biasa dipakai para Bule dan Negro untuk menghina orang Tionghoa yang bercakap bahasa Tionghoa.
● “C.D.” atau “CHINK DICK” yang berarti “Chinese penis”, biasa digunakan para Bule dan Negro untuk menghina penis berukuran kecil, karena di negara-negara barat ada stereotype kalau lelaki Tionghoa berpenis kecil.
● “YELLOW SHIT” yang berarti “orang kulit kuning bajingan”, istilah ini dipakai juga oleh para bule dan negro untuk menghina orang Korea dan Jepang.
Istilah-istilah tersebut memang sangat menyakitkan untuk diucapkan dan ditujukan pada kita Tionghoa. Namun justru ironisnya malah semakin banyak anak muda Tionghoa bodoh “sok gaul” yang terjebak “Self-Rascim” sok nasionalis Indon, sehingga mereka seakan-akan malah bangga disebut “CINA” oleh para Fankui dan sesame teman Qiaosheng-nya, ibarat dirinya bangga disebut “Pesakitan Asia Timur”.
