Nasionalisme Indonesia Berbentuk “Self Racism” Membunuh Identitas Tionghoa


Beberapa orang sering memaki saya tak punya rasa nasionalisme. Sebenarnya apakah definisi “nasionalisme” itu sendiri? Jangan-jangan yang dimaksud dengan nasionalisme itu hanya angkat bedil, menempuk dada paling keras sambil berteriak Hidup Indonesia, bikin tato burung garuda di dada, lalu memakai ikat kepala merah-putih sambil memaki-maki orang yang mengkritik pemerintah NKRI. Nasionalisme itu sangat berbahaya, ia adalah bibit dari kekejaman fasisme. Tolong berhati-hati dengan istilah “nasionalisme”. Bagi saya nasionalisme adalah sesuatu yang amat tidak perlu saat ini. Ada juga yang bilang saya rasis, chauvinis, terlalu Tionghoa, dan makian kasar lainnya. Bahkan teman-teman saya sendiri menganggap saya berbahaya. Mereka berkata kalau saya tak tahu terima kasih sama negeri ini.

Coba renungkan lah sedikit, bukankah apa yang kita makan berasal dari keringat dan perjuangan orang Tionghoa itu sendiri? Ataukah orang Tionghoa itu makan gratis hadiah pemberian dari bangsa inlander Fankui? Antara inlanders (Fankui) dan alam yang kebetulan bernama “Indonesia” ini adalah dua hal yang berbeda. Apakah yang anda maksud dengan “bangsa Indonesia”? Bagi saya tak ada istilah itu yang namanya “bangsa indonesia”. Kalau "Warga Negara Indonesia" memang ada. Coba tanya kebangsaan Hasan Ditiro di buku dan leaflet-nya, dia sebut dirinya “bangsa Aceh”. Pemahaman “bangsa” itu apa bagi anda seperti bagaimana?

Adakah kesalahan kita bangga sebagai “bangsa Tionghoa”? Bangsa ras Tionghoa memang jauh lebih berkualitas dari bangsa dan ras lain. Studi genetik terakhir di Amerika menyimpulkan bahwa secara genetik, ras bangsa Tionghoa paling pintar. Bangsa Yahudi masih kalah pintar secara genetik dari ras Tionghoa. Kalau kita liat empat penemuan yang mengubah dunia itu berasal dari Tiongkok. Ditemukannya kertas oleh Tsai Lun jelas mengubah wajah dunia. Bayangkan kalau tidk ada kertas, kita menulis di kayu, tulang dan batu. Tingkat kercedasan dan dunia IPTEK maju pesat sejak adanya kertas. Catatan penting dan record bisa disimpan di atas kertas. Coba kita perhatikan istana-istana kuno Tiongkok, biara-biara dan kuil-kuil leluhur Tionghoa. Coba bandingkan dengan kastil-kastil kuno Barat yang pengap dan berlumut. Bagi saya, kastil-kastil itu tidak lebih dari tumpukan batu tanpa seni. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ketika leluhur orang Bule masih tidur di atas pohon dan memakai baju kulit binatang, leluhur bangsa Tionghoa sudah minum arak dari cangkir giok sambil bermain Guzheng nan indah. Adapun menurut Ignatius Wibowo (sinolog dari UI), Amerika baru berkuasa kurang dari 200 tahun. Sedangkan Tiongkok pernah berkuasa di atas dunia selama 2000 tahun. Jadi, kebesaran Amerika saat ini tidak bisa dibandingkan dengan kejayaan Tiongkok. Saya yakin, kejayaan Amerika ini pasti ada akhirnya. Persis seperti kebesaran bangsa Aztec dan Inca. Lalu saat itu bangsa Tionghoa akan berkuasa lagi di atas dunia saat itu. Lihat saja sekarang Tiongkok sudah bisa bangun banyak reaktor nuklir. Punya sekitar 400 senjata berhulu ledak nuklir. Misil-misil Tiongkok bisa menjangkau seluruh dunia. Taikonot Tiongkok sudah jalan-jalan di luar angkasa. Dunia takut dengan rencana Indonesia membangun pembangkit Listrik tenaga nuklir. Karena tidak punya SDM yang bisa dipercaya untuk mengoperasikan piranti canggih semacam itu. Lebih baik kabur jauh-jauh kalau rencana bikin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dijalan di Indonesia dan dioperasikan oleh tenaga bangsa Fankui.

Bagi saya, era sekarang sejak matinya Suharto jauh lebih baik dari ketika Suharto berkuasa. Paling tidak, sekarang ada orang Dayak bisa jadi gubernur di Kalimantan Barat. Dulu hampir semuanya gubernur Kalimantan Barat dan Jenderal Angkatan Darat itu Jawa Muslim. Di sini ada proses Jawanisasi. Orang Batak mesti belajar baca “Ini Budi, ini ibu Budi”. Padahal tidak ada orang Batak satu pun yang bernama Budi. Orang Dayak pun merasa budaya mereka hendak dilenyapkan oleh hegemoni Jawa. Makanya mereka mendirikan Institute Dayakologi. Era saat ini disebut dengan “era kebebasan” atau era liberal. Semua kelompok memiliki kebebasan mengekspresikan dirinya. Adapun sisi buruknya, yaitu era ini menguntungkan dan dimanfaatkan oleh kelompok yang siap dan memiliki kekuatan. Salah satunya adalah kelompok Islam radikal. Sebenarnya, sejak jaman BPUPKI, kelompok Islam menginginkan RI itu adalah negara agama. Tetapi ditentang oleh kelompok Indonesia Timur yang mayoritas kristen. Komprominya adalah di Pancasila oleh Sukarno di mana Sila ke-1 itu sangat teokratik. Sayang, sampai saat ini kelompok islam masih menginginkan berdirinya negara Islam. Meraka coba masuk lewat Piagam Jakarta. Kemudian PKS masuk dengan PIAGAM MADINA. Perda-perda syariah mulai diterapkan di beberapa kota.

Tionghoa yang sudah kehilangan keberanian dan jati diri tidak mempersiapkan kekuatan untuk merespon perkembangan zaman. Kita bukan hanya menghadapi Fankui rasis anti-Tionghoa, tetapi juga menghadapi anak-anak yang bertampang Tionghoa tetapi hatinya milik bangsa lain. Mereka ini semacam serigala berbulu domba begitu. Coba kita lihat, ada berapa banyak anak Tionghoa yang mengngerti budaya dan warisan tradisi leluhur Tionghoa? Paling-paling hanya tahu Imlek dan Ceng Beng aja. Lah mereka dipanggil “cina (tanpa H)” saja sudah pada tak merasa terhina. Adakah persepsi buruk mereka tentang Tiongkok? Padahal sudah jelas kalau di Tiongkok daratan tidak akan pernah ada kejadian ganyang Tionghoa seperti insiden Mei 1998 di Solo, Medan, dan Jakarta.

Anak muda Tionghoa di Indonesia kalau ditanya : "Kamu sudah berapa generasi di Indonesia ?", pasti jarang sekali ada yang bisa jawab. Apalagi kalau ditanya : "Kampung halamanmu di mana ?", sudah pasti tak bisa jawab. Paling hanya tahunya dari Medan, Bangka, Singkawang, atau kota lainnya. Tetapi tak pernah tahu lagi akar leluhurnya dari mana. Kalau saya ditanya pertanyaan serupa, saya bisa jawab. Saya generasi ke-6 di Indonesia. Saya orang Khek, kampung halaman di Meixian Taipu Liao, Guangdong. Asal usul leluhur saya dari provinsi Shanxi dan Henan karena di situlah asal muasal ras Hua Xia yang kemudian di kenal sebagai Bangsa Han atau Tionghoa. 

Saya tahu bahwa ada sebagian anak-anak Tionghoa yang tidak ingin terjebak pada “rasisme”. Tetapi karena kurangnya kedewasaan dan terlalu lama dikebiri pola berpikirnya, malah jadinya kebablasan sampai terlihat anti Tionghoa dan lebih memaksakan diri berasimilasi dengan para Fankui yang jelas-jelas telah menjahati mereka. Mereka terjangkit penyakit psikologis yang disebut “SELF RACISM” atau “RASISME TERBALIK”. Malah menghujat, mengecam dan membenci etnis/ras-nya sendiri, demi untuk diterima, membaur dan menjadi bangsa "Indonesia". "Wo Shi Zhonghua-Ren, Wo Bushi Yinni-Ren (我是中华人,我不是印尼人)", kalimat ini saja mereka tidak berani dia ucapkan. Malah memilih menyatakan dengan gegap gempita bahwa “Kami adalah orang Indonesia”. Padahal lebih tepat dan benar adalah kita WNI (Warga Negara Indonesia), karena memiliki KTP Indonesia. Tetapi sampai kapan pun bangsa Tionghoa ini bukanlah bangsa pribumi Indonesia (bangsa Fankui). Tolong bedakan indentitas politik warga negara dengan indentitas cultural dan etnis. Memangnya apa ada yang disebut “ras (bangsa) Indonesia” ?

Kalaupun memang mata anda “sipit”, berkulit kuning, dan bermata hitam, maka anda harus mempertanyakan lagi ke'Tionghoa'an anda. Bangsa kita "Zhong Hua Min Zu" adalah bangsa yang besar. Bangsa kita tak butuh banci-banci berwawasan sempit yang membenci etnisnya sendiri, masih ada jutaan bahkan milyaran orang Tionghoa lainnya yang jauh lebih berhak mewarisi kebesaran dan kebanggaan golongan kita ini.