Tionghoa itu Harus Kiri dan Radikal dalam Melawan Pembodahan Masal


Pernah di suatu media masa, ketika literatur tentang budaya dan filosofi Tionghoa diharamkan oleh LPKB (Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa), CSIS (Centre for Strategic and International Studies), dan protestan radikal dengan konsep asimilasi totalnya, mereka berpandangan keliru tentang apa yang dimaksud dengan KONFUSIONISME (Kong Hu Cu). selama LPKB, CSIS, dan Protestan radikal berkuasa, KONFUSIANISME dikatakan sebagai ajaran sesat. Sekedar mengidentikan konfusianisme sebagai feodal, kaki perempuan di-ikat, membuat komunitas Tionghoa menjadi penyembah berhala, irasional, dan 1001 kejelekan lainnya. Dengan begitu banyak korban dari black propaganda oleh LPKB, CSIS dan protestan radikal. Saya termasuk salah satu anak muda korban kebijakan asimilasi Sindhunata, Sofyan Wanandi, Harry Tjan Silalahi, dan kaum protestan radikal lainnya, sehingga saya tidak mengetahui lagi keseluruhan warisan budaya Tionghoa.

Akan tetapi begitu saya bersentuhan langsung dengan teman-teman penganut Konghucu, membaca literatur Konfusinisme lebih dalam, mempelajari kultur dan sejarah Tiongkok, maka saya tersadar bahwa apa yang selama 32 tahun dipropagandakan oleh LPKB, CSIS, dan Protestan radikal adalah SEBUAH KEBOHONGAN BESAR dan PEMBODOHAN MASSAL. Ternyata begitu banyak hal dalam KONFUSIANISME selain dari ‘ikat kaki’, feodalisme, gosip tentang dewa, okultisme, anti-demokrasi, dan sebagainya. Dan bertambah kaget lagi ketika saya mengetahui korban LPKB, CSIS, dan protestan radikal adalah para penganut KONFUSIANISME.

Adanya dictum konfusianisme yang mesti diselaraskan dengan konteks kekinian adalah persoalan lain. Tetapi intinya adalah propaganda LPKB, CSIS, dan protestan radikal selama 32 tahun telah menyebabkan pandangan keliru yang sangat parah di mata generasi muda. Saya mengakui dengan jujur bahwa saya adalah salah satu korban propaganda hitam LPKB, CSIS, dan protestan radikal dengan konsep asimilasi mereka.

LPKB menjadi sangat menarik dikarenakan ia adalah lembaga yang terdiri dari tokoh-tokoh berlatar belakang etnis Tionghoa statement dan perilaku politiknya ternyata sangat anti terhadap Tionghoa. LPKB menjadi sebuah lembaga yang sangat istimewa dan menarik erhatian dikarenakan hanya LPKB saja yang sedemikian antagonis terhadap etnis-nya sendiri. Hal ini tidak terdapat dalam komunitas etnis lain seperti suku Jawa, Sunda, Madura, Melayu, dan sebagainya. Bahwa tidak ada orang Jawa yang malu terhadap ke-Jawa-an nya dan berniat untuk menghabisi budaya dan manusia Jawa, tidak seperti halnya dengan para tokoh LPKB yang hendak memusnahkan Tionghoa.

Ini cukup erat kaitannya dengan figure Siauw Giok Tjhan yang “dibantai” oleh tokoh-tokoh LPKB, adalah sebuah persaingan politik kotor yang dimainkan oleh para tokoh LPKB hasil didikan Nasution dan CIA. Siauw Giok Tjhan yang merupakan salah satu pendiri bangsa ini dan seorang negarawan besar dizalimi di akhir masa hidupnya, dan sampai sekarang akibat dari kejahatan para tokoh LPKB seperti Sindhunata, Harry Tjhan Silalahi, Sofyan Wanandi, PK Ojong, Junus Jahja, dan sebagainya masih dapat dirasakan dan tidak pernah ada tindak keadilan terhadap kejahatan mereka.

Saya tidak melihat adanya perjuangan ideologis yang hendak diperjuangkan oleh tokoh-tokoh LPKB. Perilaku politik mereka jelas memperlihatkan bahwa mereka tidak lebih dari para pedagang politik yang dapat menjual apa saja untuk kepentingan diri sendiri, bahkan etnis ibu-bapak mereka akan dijual demi untuk meraih kekuasaan. Dan itulah yang terjadi, LPKB menjual etnis tionghoa dan menghina etnik tionghoa sedemikian rupa demi kepentingan menjilat penguasa Orde Baru hanya untuk membeli bangku kekuasaan yang tidak terlalu besar.

Sosok Siauw Giok Tjhan yang sudah jelas memberikan banyak kontribusi ke etnis Tionghoa di segala penjuru Nusantara dengan ormas Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia), yang bukanlah sembarang ormas asal-asalan didirikan. Dalam politik malah ormas Baperki ini menjadi salah satu target yang harus didekati, sama hal nya dengan ormas-ormas besar saat ini. Juga sudah menjadi rahasia umum disaat peristiwa G-30-S/PKI, sosok Siauw Giok Tjhan masih eksis lama karena tidak bisa di pidana baik perdata maupun pidana, dan masih mampu memberikan perintah harian kepada semua rekan-rekannya yang tidak terkena pemberantasan G-30-S/PKI untuk membantu dan memberikan sumbangan kepada etnis Tionghoa secara langsung yang mengalami kesulitan hidup. Sayangnya di sini banyak orang Tionghoa tamak yang berkepala banyak sehingga tidak sedikit sumbangan malah diselewengkan tidak jelas entah kemana.

Setelah Baperki dibubarkan pasca peristiwa G-30-S/PKI pada tahun 1965, LPKB kemudian menjadi satu-satunya lembaga yang dapat diterima pemerintah untuk menangani masalah orang Tionghoa. Adanya usaha dari pihak pemerintah untuk mengambil alih peran LPKB demi kepentingan politiknya, membuat tokoh-tokoh pendiri LPKB satu demi satu mengundurkan diri. Salah satunya programnya adalah penggantian nama orang Tionghoa menjadi nama Indonesia yang cenderung dipaksakan, yang memunculkan nama-nama yang aneh-aneh dalam kehidupan bangsa Indonesia' bukan nama Indonesia. LPKB akhirnya dibubarkan pemerintah pada tahun 1967 karena dianggap misinya telah selesai, walaupun sebenarnya tidak jelas misi yang mana yang dianggap selesai.

Sosok Siauw Giok Tjhan dengan Baperki-nya boleh disebut kiri, kanan maupun tengah maupun "sesat", sejarah akan tetap mencatat, bahwa Siauw Giok Tjhan adalah tokoh perjuangan etnis Tionghoa dan akan tetap eksis, dengan nama baiknya, jauh berbeda dengan LPKB dimana sejarah akan mencatat sebagai sebuah sejarah pahit dan penuh celaan. Pengembalian semangat, jiwa, praktek, visi dan misi serta contoh tauladan seorang pemimpin komunitas sesungguhnya lewat figure Siauw Giok Tjhan adalah satu-satunya cara untuk membangun komunitas Tionghoa dari keterpurukan.

Tokoh-tokoh LPKB yang saat ini menjadi popular di mata kaum fanatik nasionalis Indonesia tidak lebih dari sebuah kecelakaan sejarah, tanpa sedikit pun pengalaman pergerakan dan keorganisasian, mereka menjadikan organisasi-organisasi Tionghoa sebagai panggung popularitas dan kerajaan kecil mereka. Perkerjaan mereka adalah berkonflik dengan sesama Tionghoa, memainkan skema intrik politik untuk membunuh karakter teman, mengambil keuntungan ekonomis atas penerbitan buku, sambil membual mengenai betapa cintanya mereka terhadap Tionghoa di Indonesia, padahal di sisi lain mereka menjerumuskankan golongan Tionghoa pada sebuah kenistaan tanpa martabat politik sedikit pun. Golongan Tionghoa akan terus terperosok masuk ke lubang kehancuran apabila golongan ini tetap dipimpin oleh tokoh-tokoh trendi tetapi genit, seperti tokoh-tokoh LPKB yang mengatasnamakan Tionghoa.