Sun Yat-Sen Seorang KONFUSIAN Sejati, Bukan Pemeluk Fanatik Kristen


Sun Yat-Sen (孫逸仙) adalah seorang pemimpin kunci revolusi modern Tiongkok dan diakui secara luas oleh semua orang Tionghoa sebagai Bapak Tionghoa Modern, baik di Tiongkok Daratan maupun Taiwan. Banyak sekali media-media yang terlalu menggemborkan Sun Yat-Sen sebagai seorang Tionghoa yang taat (fanatik) terhadap agama Kristen. Sehingga hal ini membuat banyak Tionghoa beragama Kristen (terutama kaum Qiaosheng) yang menganggap kalau Tionghoa Modern harus meninggalkan kepercayaan leluhur atau San Jiao (三教, terdiri dari : Buddhisme, Taoisme, dan Konfusian), lalu masuk agama barat yang dianggap lebih modern. Benarkah demikian? Kalau kita pelajari kembali pemikiran Sun Yat-Sen, sebenarnya status dia yang digemborkan “Kristen” pun masih rancu. Mengingat konsep nasionalis Sanmin Zhuyi (三民主义) beliau  sangat berbau norma Konfusian, jauh dari pemikiran Kristen yang absolute, misalnya doktrin “Iman” yang wajib percaya tanpa melihat (menganalisa).

Sun Yat-sen memeluk agama Kristen demi mendapatkan dukungan dan pengaruh internasional. Alasan yang acapkali digembar-gemborkan oleh Barat malahan modernisasi, padahal beliau ini hanya mengakumulasikan kekuatan untuk mengakhiri feodalisme yang menyengsarakan rakyat jelata. Lihat saja pada praktiknya, ia masih Konfusian, pemikiran Sanmin Zhuyi itu bukan pemikiran Kristiani, namun pemikiran Konfusian dengan tambahan unsur demokrasi demi melibas feodalisme. Pemimpin besar bangsa kita jarang ada yang benar-benar mendevosikan diri kepada agama bangsa lain, masing-masing dari mereka masih memiliki kesadaran atas kebesaran bangsanya yang tidak ada tandingannya, meskipun pernah dipermalukan oleh Barat dan Jepang. Adapun mereka yang mengaku sebagai Kristen, seperti Ma Ying-jiu, sebenarnya hanya sebagai “alat” untuk memperoleh dukungan dari Barat terhadap eksistensi Republik China yang semakin terkikis. Lihat saja mulai dari Jiang Jieshi (Chiang Kai-shek), Jiang Qingguo, Li Denghui, dan Ma Ying-jiu, mereka yang berasal dari Kuomintang semua mengaku sebagai Kristen, bukan karena mereka benar-benar Kristiani, namun sebagai tameng resmi dalam akumulasi dukungan Barat, nah perhatikan Chen Shui-bian yang merupakan pendukung separatisme Taiwan, ia tidak perlu dukungan Barat, oleh karenanya ia tidak perlu memeluk agama Kristen, dan dengan bangganya ia menyebut dirinya sebagai penganut agama leluhur (Shen Jiao, 神教). Fakta-fakta yang rumit ini perlu dipahami secara kompehensif, agar tidak “tersesatkan”.

Sanmin Zhuyi bernada Konfusian jika kita pahami dalam semangat minsheng, alias kesejahteraan rakyat! Kong Zi pernah bersabda, pemimpin akan dipuja oleh rakyatnya jika mampu mensejahterakan rakyatnya. Dalam hal ini, kesejahteraan umum dipandang sebagai suatu paham bukan boleh meminjam dari bangsa lain, namun sudah teraplikasikan dalam sejarah bangsa kita yang sangat panjang. Dr. Sun selalu menyebutkan Fan Qing Fu Ming (反清复明, anti-Qing, kembalikan Ming). Maksudnya adalah mengembalikan kesejahteraan dan kebesaran bangsa kita seperti pada masa Dinasti Ming, ketika Kaisar bersifat sangat Min Sheng (民生)”, khususnya pada masa Kaisar pertama, Zhu Yuanzhong. Di sisi lain, masih banyak dalam pengaplikasiannya Sanmin Zhuyi bersifat Konfusian, misalnya di Min Quan (民权, Demokrasi), tidak sepenuhnya ini menjiplak dari Barat, karena sistem Ke Ju  (科举)” alias ujian imperial, seperti Legislative Yuan, dan sebagainya merupakan corak demokrasi ala Konfusian yang dipadukan dalam format demokrasi modern ala Barat.

Pemikiran otoriter dari doktrin Kristen jelas sangat tidak demokrasi dan tidak manusiawi. Kita bisa lihat kebobrokan dunia Barat pra-renaissance. Gereja yang Kristen itu sangat totaliter, tidak ada unsur demokrasi di sana. Demokrasi sendiri lahir di tengah masyarakat Paganistik Yunani yang mendevosikan pada superstisi yang kini mati. Itu mengapa Kristen dan Demokrasi tidak ekivalen.

Jika melirik Taiwan (Republik China), hampir senyawa dengan Korea Selatan. Bedanya, Korea Selatan lebih parah dalam penjelmaan Kristennya, bahkan mereka lebih ekstrem, banyak kaum Kristen di Korea Selatan yang melakukan pengrusakan rumah ibadah agama non-Kristen (terutama yang kepercayaan asli), menganiaya penganut agama lain, sampai-sampai menjadi penyebar agama Kristen di negara lain. Taiwan masih menganggap Barat sebagai patron yang kuat. Untuk itu, nilai-nilai Barat sendiri tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Jangan heran jika melihat masyarakat Taiwan banyak yang mulai terbiasa dengan Kristen, karena seolah batasan antara Barat dengan Taiwan sudah memudar. Kristen dianggap sebagai way of life yang cukup baik, menggantikan posisi Shen Jiao yang bernada takhayul dan pemborosan. Meski demikian, ke-Kristen-an mereka tidak sepenuhnya menjadikan mereka lupa asal-usul, seperti layaknya keterbelakangan Fankui etnis Batak di Indonesia yang berbalik menghina kepercayaan asli Parmalimnya. Bagaimana pun pesatnya Kristen, tidak akan pernah menjadi agama dominan, apalagi secara serta-merta sama persis dengan Barat. Unsur lokalitas dan kebanggaan pada budaya sendiri masih tidak dapat dikalahkan oleh apapun, apalagi dibantu oleh kemajuan Tiongkok (PR China) saat ini.

Ada kalanya kita Tionghoa yang masih berbudaya asli warisan leluhur berupaya menyadarkan saudara kita yang sudah sedemikian fanatik pada kepercayaan barat. Kita bisa ikuti ikuti langkah Sun Yat-Sen dalam strateginya yang seolah ia Kristen, namun pada kenyataannya ia tidak Kristen, ia memahami Kristen, namun ia tidak mempraktikannya terang-terangan, ia tidak menanggalkan ajaran lama, dan tetap bersahaja tanpa harus kebarat-baratan. Teman-teman kita yang Kristen jauh lebih bisa didekati ketimbang Qiaosheng fanatik nasionalisme Indonesia yang sudah membaur dengan Fankui, setidaknya mereka masih ada yang mau menjadi Tionghoa. Inilah sebabnya jangan kita sia-siakan kesempatan emas dari kelompok ini. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang bertingkah konyol berkoar soal mitos fiktif barat, namun harus kita jadikan sebagai konsekuensi dari genosida halus. Filsafat moral Kristiani (selain mitos-mitos fiksi Juruselamat, Allah Bapa, roh kudus, surga neraka, dan lainnya) tidaklah buruk, banyak dari pemikirannya yang berada dalam satu jalur dengan ajaran moral Konfusianisme. Penyadaran mereka itu tidak semudah yang kita bayangkan, banyak yang sudah terjerumus hingga ke lubang yang terdalam, solusinya terhadap orang-orang semacam ini bukanlah dengan secara terang-terangan melakukan konfrontasi dengannya, karena dalam ajarannya dikenal prinsip “kasihilah musuhmu”, dan itulah strategi yang juga harus kita gunakan untuk menyadarkannya, kasihilah mereka sebagai orang yang tergelapkan, tunjukan fakta-fakta konkret yang semakin membuatnya bangga akan jati dirinya, perlahan namun pasti, unsur kebarat-baratannya akan mengikis, juga kepercayaan pada mitos dari barat ini pun perlahan akan pudar, seiring dengan sadarnya mereka akan keagungan bangsanya sendiri, bangsa Tionghoa. Saya rasa demikian solusi terbaik untuk menghadapi mereka. Memang suatu langkah yang panjang dan sulit, namun tidak mustahil.