Sepenggal Sejarah Naga di Bumi Garuda


Orang Tionghoa sudah datang ke kepulauan Nusantara bahkan lebih jauh ke selatan sejak seribu tahun yang lalu. Tionghoa di pulau Jawa ini komunitas tua. Mereka umumnya suku Hokkien. Datang sejak abad ke 15. Mereka tidak membawa perempuan Hokkien. Maka banyak yang kawin dengan perempuan lokal. Sebagian dari mereka terserap menjadi Fankui.

Kemudian Belanda datang. Dulu konsep Indonesia tak pernah ada. Aceh atau Sumatera perang dengan jawa. Kesultanan Melayu di Kalimantan adalah sebuah negara merdeka. Di Jawa pun ada kerajaan otonom, di Sulawesi pun begitu. Dulu, Batavia itu sebuah daerah punya Belanda. Sebagian Banten itu tidak ada yang punya. Lalu, nantinya diklaim saja menjadi wilayah Indonesia.

Belanda mendirikan administrasi kolonial di Batavia. Banyak orang Tionghoa yang dipekerjakan. Sehingga banyak tuan tanah Tionghoa yang menguasai tanah Batavia sampai Kerawang dan Tanjung Kait. Mereka punya selir-selir pribumi (Fanpoh) banyak sekali. Selir itu disebut juga “nyai”. Para nyai ini juga menjadi makanan Belanda Londo.

Belanda datang ke Nusantara dengan motif politik. Namun orang Tionghoa tidak punya pikiran menguasai daerah di Nusantara  ini. Sebenarnya bagi saya ini sesuatu yang  keliru. Tetapi pihak kaisar Tiongkok pun tidak merestui pemikiran imperial tersebut. Contohnya, waktu Republik  Lan Fang (兰芳共和国) berdiri, kaisar tidak mengirim pasukan untuk menjadikan wilayah Kalimantan Barat sebagai provinsi Tiongkok. Lalu, Belanda semakin mapan di Batavia. Mereka jadi “the ruler”. Beberapa orang Tionghoa menjadi syahbandar pelabuhan, pedagang, preman, dan jawara.

Waktu Belanda hendak memindahkan para pekerja-pekerja Tionghoa ke Burma, banyak orang Tionghoa yang menolak. Sebenarnya itu cuma puncak dari gunung es. Saya kira, orang Tionghoa tertekan oleh kebijakan kolonial Belanda. Mungkin juga ada konflik antar pribadi antara Belanda dengan Tionghoa. Mungkin orang Tionghoa tidak begitu “sreg” liat perilaku Belanda yang licik dan serakah.

Alasan menolak dipindahkan ke Burma dipakai buat sebuah pemberontakan. Rencana pemberontakan Tionghoa itu tercium oleh Belanda. Ada mata-mata penghianat Hanjian di kalangan Tionghoa. Internal Tionghoa tidak steril. Gerakannya asal. Fatal akibatnya, sehingga Gubernur Jenderal Valkenir mendahului gerakan kudeta Tionghoa. Ketika tidak siap, orang-orang Tionghoa diserang oleh serdadu Belanda yang beretnis Ambon dan Makasar. Belanda sulit mengenali tokoh-tokoh gerakan bawah tanah Tionghoa, sehingga Belanda memutuskan gerakan pembersihan total. Perempuan dan bayi Tionghoa dibabat habis di Batavia tahun 1740.

Korban pembantaiantahun  1740 berjumlah 10 ribu orang Tionghoa yang mati. Nama Kali Angke itu akibat warna air kali menjadi merah oleh darah tionghoa yang dibantai di sana. Dalam ejahan Hokkien Ang (红) berarti merah dan Ke (河) berarti kali atau danau. Sering juga disebut daerah “rawa bangke“ karena menjadi tempat pembuangan mayat-mayat Tionghoa yang dibantai oleh serdadu Belanda beretnis Ambon dan Makasar, yang juga dibantu oleh pasukan milis kota yang disebut “Pasukan Penisten VOC“,  yang saya kira terdiri dari orang-orang Betawi dan Sunda preman.  Tidak banyak yang mau mempelajari soal pembantaian ini. Saya kira ini periode penting bagi kegagalan sebuah pengorganisasian pemberontakan.

Belanda memakai taktik licik rumor dan gosip. Sebelum penduduk Fankui di Batavia terprovokasi membantu Belanda membantai Tionghoa, spionase Belanda menyebar desas-desus bahwa Tionghoa akan melakukan pembantaian terhadap orang-orang Bule dari Eropa dan juga Fankui lokal. Istri-istri mereka akan diperkosa dan anak-anak mereka akan dijadikan budak Tionghoa. Lalu di malam hari, sebuah warung di daerah Kali Besar Oost dibakar. Ini tanda bagi Belanda untuk memulai serangan. Penduduk Fankui lokal yang sudah terhasut bergerak membantai.

Esok harinya, orang-orang Tionghoa membalas serangan. Meester Cornelis (Jatinegara) dan Tanah Abang berhasil diduduki Tionghoa. Tetapi pendudukan ini tidak berlangsung lama. Belanda kembali mengkonsolidasi kekuatan para Fankui. Seluruh kekuatan pasukan berjumlah 1.800 serdadu VOC dibantu oleh 11 batalyon dan para Fankui bergerak membantai Tionghoa. Tidak ada yang disisakan.

Mengapa jarang sekali dalam buku sejarah disebutkan fakta bahwa serdadu Belanda yang melakukan pembantaian itu etnis Makasar dan Ambon? Katanya untuk menghindari dendam dari Tionghoa. Maka buku-buku sejarah palsu itu hanya menulis “serdadu Belanda”. Image-nya serdadu dari ras Bule. Padahal itu ras Fankui Makasar dan Ambon.

Sejak itu, orang Tionghoa terlibat di dalam “political affair” kerajaan pribumi. Banyak juga orang Tionghoa diterima kalangan Keraton karena punya darah campuran dengan Fankui lokal stempat.

Kelompok Tionghoa menghadapi posisi sulit dan masa sulit ketika masa perang dunia sampai perang revolusi indonesia (1945-1949). Masuknya konsep kewarganegaraan membuat sulit orang Tionghoa. Ada sebagian Fankui berpendapat bahwa Tionghoa mesti menjadi Fankui jika memilih jadi WNI, yaitu dengan paksaan berasimilasi dengan Fankui. Sejak itu sampai sekarang, persoalan masalah ini belum terselesaikan dengan baik.