Degradasi Moral Tionghoa di Indonesia


Sebenarnya Indonesia-lah negara anti Tionghoa terbesar di seluruh dunia. Bukan cuma di Asia Tenggara saja. Di banding negara lain, secara presentase total penduduk, populasi Tionghoa di Indonesia sangat kecil, hanya sekitar 10%. Jangan percaya dengan yang mengatakan kalau populasi Tionghoa mencapi 10-18 juta. Tidak sebesar itu. Dari 10% itu pun pecah lagi. Akibat gencarnya pembodohan yang dilakukan pemerintah NKRI mengenai konsep fasissatu nusa satu bangsa”, provokasi anti Tiongkok, dan hasutan asimilasi kawin campur, mengakibatkan banyak masyarakat Tionghoa Indonesia yang sudah tidak lagi merasa dirinya sebagai bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu), ataupun sudah tidak ingin menjadi Tionghoa. Maunya menjadi pribumi Fankui. Inilah yang kita sebut sebagai Qiaosheng Hanjian (侨生汉奸).

Bila kita bandingkan antara kemajuan peradaban leluhur bangsa Tionghoa dengan Fankui, tentunya derajat Fankui itu jauh lebih rendah dari orang kita Tionghoa. Kita kalah di sini, bukan karena Fankui sama pintarnya dengan kita  apalagi lebih pintar dari kita. Penyebabnya mudah ditebak, kita kalah jauh secara kuantitas jumlah. Bedanya pun besar sekali. Sekalipun kualitas lebih menentukan, tetapi kalau jarak kuantitasnya terlalu jauh , pastinya sulit juga untuk merebut dominasi. Bangsa ras Negro di Amerika sebesar 20%, mereka masih mampu melawan penindasan bangsa Bule, bahkan mampu meniduri para gadis White Chick akibat berkembangnya liberalisme. Kalau Tionghoa di Malaysia sekitar 30%, itupun mereka memiliki partai politik, tentunya mereka bisa melawan penindasan yang dilakukan Fankui Melayu. Saya kira, kalau saja Tionghoa di Indonesia bisa mencapai 20% dari populasi, tanpa ada Hanjian penjilat Fankui, pastinya sudah bisa kita sikat ini negara.

Indonesia juga terkenal dengan kerusakan mental generasi Tionghoa. Tidak ada Tionghoa di negara lain sebejat orang Tionghoa di Indonesia yang berjiwa Fankui. Bahkan, sampai di public internasional pun masih berkoar-koar dirinya “orang Indonesia, bukan orang Tionghoa”. Inilah tugas berat yang akan kita hadapi dalam mengubah pola ini. Tetapi mesti ingat, pola degradasi moral Tionghoa yang sekarang ini bukan sebuah keniscayaan apalagi absolut. Tentu bisa diubah pelahan demi perlahan.

Beberapa anak Tionghoa yang sudah sebegitu pengecut rusak moralnya menyuruh setiap komunitas etnis Tionghoa untuk berbaur ras mayoritas Fankui, mungkin agar kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM seperti aksi Anti-Tionghoa Mei 1998 tidak terjadi. Bahkan yang lebih gila lagi, ada usulan dari anak Tionghoa tersebut untuk pindah agama Muslim dan kawin campur dengan Fankui. Ini sungguh suatu tindakan yang sangat bodoh tak masuk di akal. Masuk agama Muslim sudah pasti akan menjadi Fankui secara utuh tanpa ada lagi karakteristik Tionghoa yang tersisa. Bahkan, di Medan ada istilah bahasa Hokkien yang menyebut “Jip Hwan untuk orang Tionghoa yang sebegitu bodoh pindah agama Muslim. Secara harafiah “Jip Hwan” berasal dari kata Jip (入) yang berarti “masuk” dan Hwan (番) yang berarti “Hwan-kui” atau “Fankui”. Ini artinya masuk Muslim digambarkan sebagai upaya masuk ke dalam peradaban Fankui.

Tionghoa semacam demikian sudah tidak berharga lagi, bahkan sudah tidak pantas mengaku dirinya Tionghoa. Kalaupun memang mereka “sipit”, mereka harus mempertanyakan lagi sisi ke-Tionghoa-an nya. Bangsa Tionghoa (Zhonghua Minzu) adalah bangsa yang besar, bukan secara kuantitas saja, tetapi juga dari kualitas. Bangsa kita tak butuh banci-banci berwawasan sempit seperti mereka. Masih ada jutaan bahkan milyaran orang Tionghoa lain, yang jauh lebih berhak mewarisi kebesaran dan kebanggaan golongan kita ini.

Saya  pikir rasisme itu sebuah gerakan. Tidak ada penilaian mutlak terhadap sesuatu yang dikatakan rasisme. Kalau sekedar sentimen jelas wajar. Malah saya mengakui sangat manusiawi  bila orang Jawa lebih demen bermain dan berbisnis dengan sama Jawa. Kalau mau bicara keadilan, pastinya orang Tionghoa juga begitu. Tionghoa berhak memilih kedekatan dengan sesamanya, tanpa ada interupsi dari politik jahat asimilasi pembauran. Justru “rada gila” kalau Tionghoa malah merendahkan sesama orang Tionghoa, malah lebih demen kebudayaan bangsa ras lain dan melupakan kebudayaan mereka sendiri. Begitu juga dengan suku-suku ras lain.

Ya mungkin saya dinilai sebagai Tionghoa yang sovinis. Tapi saya tidak segitu barbar akan membantai orang dan memperkosa wanita ras lain hanya karena mereka beda ras dan dipaksa kawin dengan lelaki Tionghoa. Saya hanya berharap kita bisa saling sayang dan solider satu sama lain, lebih tepatnya bisa menghargai originalitas asli peradaban dan identitas etimologis setiap ras bangsa.