Pemikiran-pemikiran
Mao Zedong (毛泽东)
tentang manusia bisa dikatakan lebih moralis bila
dibandingkan dengan tokoh-tokoh Marxisme
yang lain. Manusia bukanlah suatu “produk yang sudah jadi”, ia dipengaruhi
oleh lingkungan di sekelilingnya, terutama
pendidikan. Melalui pendidikan, kesadaran sosial seseorang dapat dibentuk. Berbeda dengan Marx,
ia menolak pendapat Marxisme yang menyatakan bahwa
masing-masing individu telah ditentukan kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingannya
berdasarkan sifat kelasnya. Menurut ketua Mao, keanggotaan
seseorang dalam suatu kelas dapat berubah, ia dapat dibentuk menjadi
manusia baru melalui “pendidikan-kembali (re-edukasi)”. Ketua Mao
ingin menyatakan bahwa apa yang selama ini dinyatakan
sebagai “takdir” adalah omong kosong, manusia berhak sepenuhnya atas hidupnya, dan berhak untuk menentukan dan mengubah kehidupannya.
Pandangan
ini mendasari konsepnya tentang voluntarisme, bahwa keinginan dan
kebulatan tekad manusia pada akhirnya akan mampu melalui segala rintangan
untuk menuju dunia yang lebih baik. Digambarkan oleh ketua Mao dalam puisinya tentang seorang orang tua yang berusaha memindahkan
pegunungan dengan berdasar keyakinan, ketekunan dan kekerasan hati.
Puisi ini sangat populer pada masa-masa Revolusi Kebudayaan. Tindakan
dan keputusan-keputusan Mao yang moralis telah mengubah teori “materialisme-dialektik” dari Marxisme, menjadi “moralisme-dialektik”. Mao menyimpulkan
bahwa transformasi fisik (sarana-sarana produksi) tanpa
di-imbangi dengan transformasi moralitas masyarakat, tidak akan menjamin
kelanggengan masyarakat baru. Bentuk-bentuk kesadaran sosial harus diubah
sama sekali dan harus mempunyai landasan yang kuat. Oleh karena itu pemikiran-pemikiran
sosialis harus ditanamkan kepada masyarakat dan dipraktekkan
dalam kehidupan sehari-sehari hingga menjadi “way
of life”. Ini adalah
tujuan program Revolusi Kebudayaan (大文化革命).
Menurut
ketua Mao, penggulingan pemerintahan lama dan pengalihan
alat-alat produksi kepada proletariat saja belum cukup untuk
terwujudnya masyarakat baru, kecuali telah terbentuk suatu konsep yang sama
dalam pikiran masyarakat. Dengan kata lain, bentuk-bentuk kesadaran sosial dan
bangunan atas masyarakat lama harus digantikan oleh ideologi baru.
Secara
resmi Revolusi Kebudayaan dicanangkan oleh
Partai Komunis Tiongkok pada pertemuan
Komite Sentral ke-8 tahun 1966, tercantum
dalam 16 poin resolusi sebagai petunjuk atas tindakan rakyat
dalam masa revolusi. Atas nama penghapusan “4 hal-hal kuno
“, yaitu : kebudayaan kuno yang bersifat tahayul dan shamanisme fiktif, gagasan
pemikiran kolot, tradisi feodal
barbar,
dan kebiasaan-kebiasaan di jaman kuno sebelum republik.
Tentara
Merah, atau dikenal dengan sebutan Hong Wei Bing (红卫兵)
berhak menghancurkan segala hal yang berhubungan atau
mengingatkan mereka dengan peradaban dan kepercayaan Barat, dan feodalisme, termasuk benda-benda
warisan sejarah yang sering dipakai untuk
ritual tahayul.
Lin Biao (林彪),
salah seorang pendukung Mao menerbitkan buku saku yang sangat
populer pada masa itu, terkenal dengan sebutan “buku merah kecil” (little red book), berisi
kutipan-kutipan perkataan Mao, sebagai pedoman tindakan anggota
Hong Wei Bing dan rakyat secara umum. Buku ini sengaja
diterbitkan dalam upaya mengingatkan kemabai nasihat-nasihat ketua Mao di awal terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok, yang pada saat
itu ketua Mao telah turun dari jabatan
presiden.
Seluruh
tindakan masyarakat harus didasarkan atas argumen-argumen yang kuat
dan bukan atas dasar kekuatan fisik, inilah semboyan yang selalu diserukan oleh
Lin Biao dan Jiang Qing (江青) sebagai pemimpin Revolusi Kebudayaan. Namun pada
kenyataannya ini adalah nol besar, karena justru Jiang Qing berkhianat pada Revolusi Kebudayaan. Ia beserta tiga
rekannya Zhang Chunqiao (张春桥), Yao Wenyuan (姚文元), dan Wang Hongwen (王洪文) membentuk fraksi politik yang disebut “Gang of Four (四人帮)”. Fraksi Gang
of Four berhasil mengatur kekuasaan di Partai Komunis Tiongkok pada akhir masa
Revolusi Kebudayaan. Mereka ini sebenarnya sederetan tokoh berjiwa kapitalis
gila uang dan kekuasaan yang menyamar menjadi kaum revolusioner. Mereka bersama
menebarkan kekacauan di seluruh Tiongkok dalam masa kekuasaan mereka selama 10
tahun. Saat Revolusi Kebudayaan berlangsung, fraksi ini membayar preman
proletar menyamar menjadi Hong Wei Bing, ditugaskan membunuh saksi mata
kebejatan Gang of Four dan juga
pembantaian lawan-lawan politknya. Termasuk juga pengrusakan warisan kebudayaan
Tiongkok yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan tahayul dan shamanisme
fiktif seperti direncanakan ketua Mao. Ini yang memang sangat disayangkan. Sebetulnya konsep Revolusi
Budaya itu bertujuan mulia memajukan negara Tiongkok, tetapi sayang dalam prakteknya
dipimpin oleh orang yang tidak loyal pada negara dan partai. Bisa dikatakan,
Jiang Qing itu tidak mewarisi semangat revolusioner Maoisme. Akibat kejahatan Gang of Four, maka sampai saat ini
banyak rakyat Tionghoa awam (terutama Tionghoa overseas) yang malah jadi membenci gerakan Revolusi Kebudayaan.
Di era kepemimpinan ketua
Deng Xiaoping (邓小平), semua
kejahatan anggota Gang of Four yang mengkhianati Revolusi Kebudayaan diselidiki.
Keempatnya ditahan pemerintah Tiongkok pada tahun 1976 menyusul kematian ketua Mao.
Pada tahun 1981, Partai Komunis Tiongkok menjatuhkan hukuman penjara seumur
hidup kepada Jiang Qing dan Zhang Chunqiao. Sedangkan Yao Wenyuan dan Wang
Hongwen divonis hukuman 20 tahun penjara.
Adapun dari peristiwa
Revolusi Budaya ini jelas bisa kita lihat pada dasarnya wanita kapitalis
berjiwa materialistik seperti Jiang Qing
inilah perusak revolusi. Kasus seperti Jiang Qing ini peringatan bagi Tiongkok
(juga masyarakat Tionghoa di negara lain) agar tidak lagi terlena dengan gerakan “emansipasi”
pemikiran demokrasi Barat, dimana ada seorang wanita yang memang bukan
kodratnya memimpin diberi kekuasaan berlebihan. Apalagi bila wanita tesebut seperti
Jiang Qing yang memiliki latar belakang kehidupan borjuis-kapitalis semasa
mudanya berkarir di dunia entertainment. Saksi mata kebejatan masa muda Jiang
Qing inilah yang dibantai saat Revolusi Kebudayaan.
Akibat pengkhianatan Gang of
Four semasa Revolusi
Kebudayaan, ternyata mengakibatkan roda pemerintahan Tiongkok tidak berjalan dengan
semestinya dan menimbulkan banyak korban yang sebetulnya bukan Hanjian kontra-revolusi. Kesalahan ditimpakan
pada ketua Mao sebagai pencetus gagasan atas
korban-korban yang ditimbulkannya. Meskipun demikian, mengingat jasa-jasa ketua Mao yang mendirikan negara Republik Rakyat Tiongkok, maka tetap saja dalam pandangan bangsa Tionghoa sendiri, ia tetap dihormati sebagai seorang pahlawan yang berjasa
menyelamatkan kelangsungan hidup bangsa Tionghoa dan
mengantarkan mereka menuju suatu dunia baru yang merdeka,
bebas dari tuntunan (imperialisme) negara lain.
Pada survei tahun 1994, dari 6.000 orang, 40%
memilih Mao Zedong sebagai figur politisi favorit mereka, 26% memilih
Zhou Enlai, dan kurang dari 10% memilih Deng Xiaoping.
Masyarakat
korban Revolusi Kebudayaan (korban kejahatan Gang of Four) sendiri tidak
banyak menyalahkan keadaan ini kepada ketua Mao, mereka menyadari bahwa hal itu memang seharusnya
dilakukan, tidak ada revolusi yang berjalan dengan mulus dan perlahan-lahan,
perjuangan akan selalu membutuhkan pengorbanan terutama dari rakyat. Revolusi
Kebudayaan Mao bukanlah suatu konsep kosong belaka, ia berusaha
melakukan suatu perubahan sosial yang lebih menyeluruh ke segala aspek
kehidupan manusia, bukan hanya transformasi
secara fisik saja namun juga mental
masyarakatnya.
Revolusi
Kebudayaan oleh Mao Zedong selanjutnya dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1.
Kontradiksi (konflik) internal adalah unsur terpenting dalam perkembangan masyarakat
yang menimbulkan perubahan-perubahan, mendorong perkembangan dan
kemajuan masyarakat Tionghoa.
2.
Keberhasilan Marxisme di Tiongkok adalah karena ketua Mao menerapkan Marxisme dan
Leninisme yang disesuaikan dengan kondisi
sosial, politik, dan budaya bangsa Tionghoa, juga geografis Tiongkok.
3.
Transformasi sosial tidak dapat dicapai hanya dengan pengalihan kepemilikan
atas alat-alat produksi kepada proletariat, namun dibutuhkan
perubahan secara mendasar (ideologi) dengan membentuk manusia Tionghoa baru melalui “pendidikan-kembali (re-edukasi)”.
4.
Revolusi Kebudayaan adalah salah satu dari sekian banyak
gerakan massa yang terjadi, yang merupakan suatu proses berkelanjutan dari konsep revolusi permanen
ketua Mao.
Kemauan
untuk melakukan perubahan dan semangat juang rakyat Tionghoa di Tiongkok daratan dalam memajukan negerinya dapat dicontoh
oleh setiap negara berkembang di dunia, termasuk kita para Tionghoa di Indonesia. Melalui
pengorbanan harta benda dan nyawa rakyatnya dalam
tahapan-tahapan sejarah berupa Revolusi Kebudayaan, pola kepemimpinan
telah membawa Tiongkok hari ini menjadi negara yang mandiri, kuat dan
berdaulat.




