The Founding of a Republic 【建国大业】




Semua generasi muda Tionghoa, termasuk kita para Huayi yang hidup di berbagai belahan dunia pun sangat disarankan untuk menonton film yang berjudul "The Founding of a Republic" atau “Jiàn Guó Dà Yè 建国大业”, dimana film ini menceritakan kisah nyata perjuangan bangsa Tionghoa di negri leluhur kita Tiongkok dalam menentukan jati mereka menuju bangsa Tionghoa yang bebas dari perbudakan asing, bermoral tinggi, dan adil makmur di bawah pimpinan ketua Mao dan Gong Chan Dang (Partai Komunis Tionghoa), hingga terbentuklah Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó 中华人民共和国 (Peoples Republic of China) yang kini menjadi salah satu negara terkuat dunia, membuat para bangsa lain kagum pada kemajuan bangsa Tionghoa yang luar biasa. Mungkin lewat film ini, kita sebagai Tionghoa perantauan di negara Indon, kita akan sangat mudah mengenal kisah-kisah pahlawan asli kita. Sudah saatnya kita kenali pahlawan asli kita di Tiongkok, pahlawan kita bukan pahlawan bangsa Fankui yang dipalsukan sejarah Orba, yang dalam fakta aslinya sangat rasis anti-Tionghoa di era pasca kemerdekaan Indon.

Tiongkok yang berjumlah penduduk seperempat sedunia, tahun 2009 berusia 60 tahun sejak jadi Republik Rakyat, tentunya pemerintah Tiongkok hendak memperingatinya lewat film. Perusahaan Film Negara, China Film Group, segera mendapuk sutradara Huang Jianxin. Huang berduet dengan Kepala CFG, Han Sanping. Bujetnya sekitar 60-70 juta yuan (AS$8,8-10 juta). Film ini tentu saja mengkisahkan perjuangan ketua Mao Zedong (diperankan Tang Guoqiang) dan Gong Chan Dang dalam "Chinese Civil War" yang terjadi di negeri leluhur kita pada tahun 1927 sampai 1949 melawan kaum Guo Min Dang (Nasionalis Tionghoa) di bawah Jiang Jieshi / Chiang Kai-Shek (diperankan Zhang Guoli) yang sangat diktator, menjilat USA, arogan, dan menindas rakyat kecil. Ada juga figur sejarah Tionghoa lainnya yang tak kalah pentingnya. Ada janda Sun Yat Sen, Soong Ch’ing-ling (diperankan Xu Qing), yang akhirnya memihak pada Mao Zedong yang terbukti berjuang sejati untuk rakyat Tionghoa. Ada juga pengikut Mao, Zhou Enlai, hingga Adik Soong Ch’ing Ling, Soong May-ling adalah istri Jiang Jieshi yang gencar menjilat Amerika saat pasukan Guo Min Dang dipecundangi tentara PLA Komunis. Sejumlah pesohor artis Mandarin pun tumpah ruah dalam satu film. Ada Jackie Chan, Jet Li, Andy Lau, Zhang Ziyi, Leon Lai, Donnie Yen, dan Tony Leung. Namun hanya mendapat peran minor.

Disini kita bisa mengenali sosok ketua Mao sebagai tokoh agung yang dicintai rakyat Tionghoa, menyukai anak kecil, berpembawaan hangat, rela menderita, akomodatif terhadap semua pendapat. Juga membongkar karakter Jiang Jieshi yang hidup di tengah kemewahan dan blunder dalam megambil langkah penting. Meski begitu, film ini tak coba menampilkan perbedaan Mao dan Jiang demikian hitam-putih. Keduanya tetaplah tokoh besar, dengan keagungan dan kearifan pemikiran masing-masing, cuma berbeda jalan.

Dalam sebuah rapat malam-malam, Mao memadamkan lilin. Alasannya, untuk berhemat. “Rapat berarti bicara bersama, “bukan melihat bersama,” katanya. Ada seorang juru masak yang demikian memuja Mao sehingga ia rela menyimpan, tidak menyulut sebatang rokok pemberiannya untuk sekadar kenangan. Hingga Mao memberikan satu pak rokok itu padanya. Untuk memulai Long March yang legendaris itu, Mao berucap, “mempertahankan rakyat dan melepas tanah, kita akan mendapatkan keduanya. Mempertahankan tanah dan meninggalkan rakyat, kita akan kehilangan keduanya. Aku rela melepas (daerah) Yan’an untuk menggantinya dengan seluruh Tiongkok.

Jiang Qingguo (diperankan oleh Chen Kun), putra Jiang Jieshi, digambarkan sebagai tokoh muda, ambisius, idealis. Ia hendak memberantas korupsi di tengah kelesuan ekonomi sehingga Tiongkok harus menetek dana dari USA, didapatinya sejumlah konglomerat Shanghai menimbun barang. Celakanya, salah satu pelakunya adalah kerabat sendiri, keluarga Kung, yang notabene adalah penyokong dana partai.

Kung adalah pengusaha terkaya di Shanghai pada masa itu. Ia mengawini Soong Ai-ling, bungsu dari tiga bersaudara Soong. Lain kata, Kung adalah ipar Jiang Jieshi. David Kung, putra pebisnis itu, sepupu Jiang Qingguo, dengan enteng berujar, “aku pebisnis, bukan filantropis.

Di tengah dilema itu, Jiang kecil mengadu ke ayahnya. Jiang Jieshi bertutur apik, “Memberantas korupsi memang berat. Melakukannya akan berimbas pada partai. Namun, tidak melakukannya, akan menyengsarakan negara.

Ada beberapa adegan yang dramatis dan berkesan, usai merebut kemenangan dalam pertempuran di Sungai Yangtse, malam itu para dedengkot Komunis minum dan berpesta dengan rakyat, Zhou Enlai dan dua kamerad melingkari meja makan. Mao duduk di belakang sudah teler. Bertiga, kecuali Mao, mereka menyanyikan bait terakhir “Internationale” dengan gempita. Berangkulan. Mao pun menyusul gabung.

Perjuangan penghabisan
Bangkit dan melawan
Internasionale
Pasti jaya di dunia,

Perjuangan penghabisan
Bangkit dan melawan
Internasionale
Pasti jaya di dunia…”

Dalam sebuah rapat Liga Demokratik pasca kemenangan Komunis memukul Nasionalis, Mao dan kawan-kawan hendak menentukan bendera Negara. Hampir semua sepakat bendera Tiongkok adalah merah-kuning, perlambang Sungai Yangtse. Tian Han (diperankan Donnie Yen) beda sendiri. Ia mengusulkan bendera merah berbintang kuning lima. Satu bintang besar simbol Partai Komunis yang dikelilingi empat bintang kecil pertanda empat kelas yang melingkari partai. Usulan Tian Han mentah.

Hingga satu kali, Mao berkumpul dengan aktivis gerakan perempuan. Para wanita menuangkan pandangan mereka, lebih condong memilih bendera merah berbintang lima. Termasuk, Gong Peng (Zhang Ziyi). Pendapat mereka diperkuat oleh Soong Ch’ing Ling. Bendera itu berkesan khidmat.

Ada lagi penentuan lagu kebangsaan “March of Volunteers” adalah usulan Tian Han. Lagu ini tercipta pada saat perang Tiongkok melawan Jepang pada 1934 (ketika masih bersatu, sebelum pecah antara Komunis dan Nasionalis). Rapat berdebat sengit. Ada yang bilang lirik harus diganti karena sudah tidak sesuai dengan zaman. Ada yang berpendapat lirik tak perlu diubah karena ini menyangkut sejarah. Hingga akhirnya rapat sepakat, lirik lagu nasional Tiongkok  itu adalah “March of Volunteers” .

Pada bagian akhir cerita, Jenderal Yu Jishi (Andy Lau) menghadap Jiang Jieshi. Mereka berada di balkon lantai atas. Di luar hujan. Yu melapor pesawat tempur siap berangkat mengebom Beiping (sejak 1949, berganti nama jadi Beijing). Sore hari pukul tiga, di Lapangan Tiananmen, Mao bakal mendeklarasi People's Republic of China. Namun, sambung Yu, USA enggan membantu pengisian bahan bakar.

Apa artinya ?” tanya Jiang.

Pesawat tak bisa kembali,” jawab Yu.

Sudah takdir. Guo Min Dang hancur oleh tangannya sendiri. Urungkan misi,” perintah Jiang.

Yu menjawab berat, “baik.”

Yu meninggalkan Jiang. Sebelum pergi dari ruangan, Yu berbalik memandang presiden yang kini lari ke tanah baru itu. Jiang masih berdiri melihat hujan.

Di tempat lain, lautan massa gegap gempita menyambut lahirnya republik baru milik bangsa Tionghoa, yaitu People's Republic of China pada 1 Oktober 1949. Pada saat itu, langit Beiping cerah. Tak pernah ada pesawat Taiwan milik pasukan Guo Min Dang yang lalu-lalang. Negeri baru lahirlah sudah, Jiang Jieshi sang diktator Nasionalis-Borjuis sudah tak bisa mencegahnya.