Banyak sekali tokoh-tokoh Tionghoa di Indonesia yang secara status dianggap pahlawan bagi Negara Indonesia, lantas tanpa pembuktian mereka pun dianggap pahlawan bagi ras Tionghoa di Indonesia. Saya akui mereka semua itu orang yang gigih terhadap ideologisnya, namun mengenai persoalan “patriotisme Tionghoa”, saya sendiri masih meragukan. Bahkan menurut ada yang dinilai sangat membahayakan dalam aksinya terhadap kelestarian originalitas peradaban Tionghoa. Saya di sini akan coba memandang beberapa tokoh ini dari kacamata Tionghoa original yang “anti-asimilasi” masih mencintai peradaban asli Tionghoa (secara kultur dan genetik) dan patriotisme pada negeri leluhur Tiongkok.
Kristoforus Sindhunata
Ini adalah Qiaosheng Hanjian paling biadab yang pertama kali mengusulkan program asimilasi kawin campur Fankui dengan Tionghoa, sekaligus menghasut berbagai kalangan Tionghoa untuk pindah kepada agama mayoritas Fankui. Pernyataan dalam Piagam Asimilasi ini terus dipergunakan dan diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru melalui Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa atau Bakom PKB dengan Sindhunata sebagai ketua pertamanya.
Ini adalah Qiaosheng Hanjian paling biadab yang pertama kali mengusulkan program asimilasi kawin campur Fankui dengan Tionghoa, sekaligus menghasut berbagai kalangan Tionghoa untuk pindah kepada agama mayoritas Fankui. Pernyataan dalam Piagam Asimilasi ini terus dipergunakan dan diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru melalui Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa atau Bakom PKB dengan Sindhunata sebagai ketua pertamanya.
Di January 1961 diadakan suatu seminar di Bandung (Ambarawa) yang menelurkan Piagam Asimilasi dan ditanda-tangani oleh tiga puluh orang, 26 di antaranya adalah peranakan Tionghoa (yang sudah menjadi Qiaosheng), termasuk Ong Hok Ham, Lauw Chuan Tho dan Kwik Hway Gwan (ayah Drs. Kwik Kian Gie). Pada intinya, piagam ini menekankan bahwa syarat mutlak untuk mencapai suatu bangsa dengan masyarakat yang adil dan makmur serta negara yang kuat dan penuh dinamika sehingga dapat menjalankan peranan wajar dalam dunia internasional sesuai dengan panggilan jaman, satu-satunya jalan ke arah pengejawantahan cita-cita tersebut adalah dengan proses asimilasi yang diartikan masuk dan diterimanya seorang yang berasal keturunan Tionghoa ke dalam tubuh bangsa Indonesia tunggal sedemikian rupa sehingga akhirnya golongan semula yang khas tak ada lagi.
Apakah benar asimilasi yang mempunyai kemiripan dengan sejarah akulturasi ini merupakan alat yang tepat untuk mencapai masyarakat adil dan makmur? Ternyata dalam penerapannya selama puluhan tahun tetap tidak membawa hasil yang memuaskan, bahkan tetap terjadi kesenjangan hampir di segala bidang kehidupan dan tidak jarang terjadi konflik berdarah di mana minoritas Tionghoa sebagai korbannya, terutama kasus-kasus pemerkosaan terhadap amoi-amoi Tionghoa, dan kasus pelecehan seksual lainnya. Ini dikarenakan adanya pemikiran dari lelaki-lelaki Fankui bahwa karena konsep asimilasi, maka wanita amoi Tionghoa yang cantik putih mulus tidak lagi eksklusif untuk kaumnya saja, sehingga muncul indikasi mereka untuk bebas bertindak semena-mena pada wanita bangsa lain yang bukan milik kaum mereka.
Haji Junus Jahja
Sebenarnya beliau memiliki nama asli Lauw Chuan Tho. Ia termasuk tokoh Hanjian penghianat yang menyebabkan banyak Tionghoa menjadi budak mitos fiktif Arab dan meninggalkan kebudayaan aslinya. Ia turut bergabung dengan Hanjian lain dari LPKB seperti Kristoforus Sindhunata dalam pencetusan Piagam Asimilasi yang memaksa agar warga keturunan Tionghoa sepenuhnya berasimilasi dengan masyarakat Fankui, salah satunya menikah dengan Fankui. Lauw Chuan Tho memeluk Islam pada 1979 setelah menikah dengan ustadzah bernama Cicih Rukaesih. Saat itu pula dia mulai membuang nama Tionghoa, menggantinya dengan nama Haji Junus Jahja. Ia menjadi penyokong berdirinya Masjid Lautze di Jakarta serta Yayasan Haji Karim Oei, yang kelak Mesjid ini pun menjadi wadah perkumpulan Tionghoa Muallaf radikal yang anti budaya leluhurnya.
Karena kefanatikan beliau terhadap konsep anti-kafir seperti di ajaran Muslim, maka beliau mengidentifikasi pemeluk Sanjiao (Buddha, Taoisme, dan Konghucu) sebagai kaum kafir yang harus diberantas secara paksa. Beberapa ayat Quran : “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (QS 9:29)” dan juga “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman (QS 9:14),” sangatlah menginspirasi dia untuk terus membunuh kebudayaan Tionghoa asli. Adapun untuk menjalankan program pemberantasan kebudayaan Tionghoa, beliau banyak menjalin kedekatan dengan tokoh-tokoh Muslim dari ras Fankui atau Arab yang radikal, seperti Habib Rizieq ketua Front Pembela Islam. Namun sayangnya hanya sedikit warga Tionghoa yang tahu hal ini. Kalau di kalangan Masjid Lautze ini sudah bukan lagi rahasia.
Kini beberapa cabang yayasan Muallaf yang disokong oleh Haji Junus Jahja sudah menjurus kepada dukungan gerakan-gerakan terorisme jihad Muslim baik dalam negeri atau luar negeri. Saat teroris Bali Imam Samudra, Ali Ghufron,dan Amrozi dinyatakan eksekusi mati tahun 2008, banyak sejumlah umat Masjid Lautze (baik Tionghoa Muallaf dan Fankui) yang mengutuk keputusan Mahkamah Konstitusi Indonesia. Bukan itu saja, bahkan umat radikal di bawah hasutan Haji Junus Jahja ini sering mendukung aksi terorisme jihad lain, termasuk dukungan kepada teroris Muslim kaum separatis Uighur (East Turkestan) di Xinjiang Tiongkok yang banyak sekali menewaskan etnik Han. Inilah salah satu bentuk anti-Tiongkok dari kalangan Tionghoa Muallaf di Indonesia.
Yap Thiam Hien
Beberapa Tionghoa pemeluk agama Barat mungkin sering keliru pada Yap Thiam Hien yang dikira berjiwa patriotik Tionghoa. Memang benar orang tersebut masih ada sedikit dedikasi buat Tionghoa, bahkan dia pun pernah ikut bersama Siauw Giok Tjhan dalam pembentukan Baperki yang menentang Asimilasi. Dia pun tak mengganti nama menjadi menjadi nama versi Indonesia. Namun ideologi kebarat-baratan dia yang sangat pro-liberalisme membuat dia akhirnya ia keluar dari Bapreki karena tak sepaham dengan Siauw yang berideologi kiri sosialis. Ini sebuah kesalahannya mungkin karena pengaruh fanatisme agama Barat juga juga sehingga membuatnya jadi anti-komunis, termasuk Komunisme Tionghoa (Maoisme). Jadi jelas, akhirnya dia pun turut menajdi seorang yang sangat anti Republik Rakyat Tiongkok. Padahal negara Barat yang dipuja Yap Thiam Hien tidak memberi jaminan keamanan Tionghoa di Indoensia.
Padahal saat era 60-an banyak Tionghoa berlindung di bawah partai komunis Indonesia, supaya mendapat perhatian dari negeri leluhur Tiongkok. Bahkan Siauw Giok Tjhan bersama Zhou En Lai sempat menyetujui Tionghoa Indonesia dengan dua kewarganegaraan (PRC dan NKRI), supaya ada jaminan keamanan dari pemerintahan Tiongkok. Saat era 60-an itu Fankui sedang gila-gilanya ingin menghabisi Tionghoa di ujung kejatuhan Sukarno. Andai Tionghoa saat itu terhimpun dalam suatu organisasi masal komunis yang terhubung dengan negeri leluhur, mungkin Tionghoa bisa mendapat perlindungan dari negeri leluhur.
Soe Hok Gie
Parahnya, Soe Hok Gie pernah tak sengaja menyebabkan gerombolan Fankui melalukan penyerangan kepada Tionghoa. Satu kali ketika mahasiswa Fankui melakukan long march berunjuk rasa. Beberapa oknum anti Sukarno di pemerintahan menyusupkan preman-preman Fankui yang berlagak mahasiswa lalu menghasut massa untuk menyerang Tionghoa. Soe Hok Gie yang memang tidak menyadari rencana jahat itu atau memang sudah benci rasnya sendiri, malah sengaja memimpin mahasiswa pemberontak berjalan melewati daerah pemukiman orang Tionghoa. Hal ini menyebabkan beberapa rumah Tionghoa dirusak mahasiswa Fankui dan puluhan Tionghoa terluka.
John Lie
Saya kategorikan tokoh ini sebagai Hanjian karena keberpihakan dia pada kaum Fankui republikan pasca kemerdekaan Indonesia. Kalian pernah dengar pembantaian yang dilakukan Fankui pada Tionghoa di Sumatra (misal di Bagansiapi-api)? Inilah contoh ulah okum jahanam pro-republik, Bagan Siapi-api diserbu oleh para Fankui yang tergabung dalam Angkatan Laut Republik, Angkatan Darat dan Polisi Republik. Jumlahnya hampir 5 ribu pasukan. Ratusan Tionghoa tewas, tetapi mereka yang selamat melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata seadanya.
Nah senjata para Fankui itu dari mana? Tentu saja supply dari si John Lie yang ceroboh ini, didapat dari Singapore. Bagi Fankui saat itu, semua yang berbau non-bumiputera adalah musuh, Tionghoa ikut dibantai bersama Belanda. Mungkin kita harus baca kisah heroik pasukan Bao An Dui sebagai pahlawan Tionghoa sebenarnya. Adapun si John Lie pun ikut mennganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma saat jaman Bapreki versus LPKB (organisasi para Hanjian Sindhunata, Sofyan Wanandi, Harry Tjan Silalahi) agar lebih terkesan Indonesia daripada Tionghoa. Ini pembuktian baginya identitas Tionghoa tidak istimewa.
Kwik Kian Gie
Saya jadi ingat waktu itu Kwik Kian Gie diancam mau ditembak oleh seorang Batak bernama Hariman Siregar. Kita dari Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia mau jaga beliau dan rumah beliau. Karena tidak ada satu pun kelompok Tionghoa yang lindungi dia. Namun sangat lucu, malah sebaliknya dulu Kwik Kian Gie pun sering menolak berjuang untuk Tionghoa. Dia pernah bilang orang Tionghoa sulit diajak kerja sama. Bahkan dia tidak digubris sekalipun sudah pernah foto bersama Zhu Rong Ji. Kwik Kian Gie memang bagus menjadi menteri ekonomi, tetapi apa kira-kira perjuangannya untuk komunitas Tionghoa pun bagus? Pernah adakah semacam tindakan nyata dari Kwik Kian Gie untuk menentang politik genosida budaya Tionghoa persis seperti aksi Siauw Giok Tjhan yang terang-terangan menolak asimilasi yang dipaksakan? Tentu tidak akan pernah, jelas karena ayah beliau Kwik Hay Goan ternyata adalah salah satu tokoh pendiri LPKB (Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa) yang terdiri dari tokoh-tokoh berlatar belakang etnis Tionghoa statement dan perilaku politiknya ternyata sangat anti terhadap Tionghoa. Kwik Kian Gie pun pernah komentar buruk tentang "Pengusaha Tionghoa". Penggunaan istilah generalisir "Pengusaha Tionghoa" membuat stigma buruk bagi semua pengusaha beretnis Tionghoa.
Andaikan Kwik Kian Gie jadi calon presiden disamping pilihan lain seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Prabowo, dan sebagainya, pastilah saya pilih Kwik Kian Gie. Tetapi kalau ada Tionghoa lain yang terbukti lebih bersih, transparan, dan profesional, apalagi pernah terbukti membela komunitas Tionghoa, saya pasti lebih pilih tokoh tersebut daripada Kwik Kian Gie. Ini bukan berarti saya sentimen sama Kwik Kian Gie yang notabene-nya senior kita juga. Bangga pasti bangga apabila ada orang Tionghoa memegang jabatan tertinggi di negara ini, minimal diharapkan bisa sedikit mengurangi sentimen rasis anti Tionghoa. Tetapi di sini yang kita bicarakan kualitas memimpin. Kwik Kian Gie adalah seseorang bertipikal pemikir bukan seorang pemimpin, sekalipun sama-sama baik.
Ester Jusuf
Tokoh publik figur ini yang menurut saya paling fatal. Dirinya berkoar-koar perihal Mei 1998 namun ironis sekali encik genit ini malah mengawini seorang Fankui. Jujur saja saya gelisah dengan aksi encik ini yang pastinya bisa mebuat persepsi kalau anti rasial Tionghoa berarti juga disertai gerakan asimilasi. Ibarat seorang guru sambil mengajar pendidikan moral tapi juga merokok di kelas, pasti murid beranggapan merokok di kelas itu tindakan yang etis.
Sering kita lihat aksi beliau siang malam jual pamor di depan publik mengaku paling Tionghoa, mengaku pejuang anti-kerusuhan Mei 1998, tetapi di balik topeng Tionghoa yang dijual pada publik, orang ini malah mengawini seorang Fankui Batak yang “se-iman”, malah setiap malam menyuguhkan tubuhnya pada lelaki Fankui.
Secara definisi pengertian “Hanjian (汉奸)” melalui proses sejarah yang terjadi di Tiongkok, orang yang berpura-pura di awal membela Tionghoa, namun di ujung malah melakukan tindakan hina yang merugikan eksistensi Tionghoa, seharusnya disebut Hanjian. Jangan pernah lupakan sejarah Wang Jingwei, penghianat negeri Tiongkok yang kudeta menjadi seorang presiden Republik Tiongkok (ROC), menyebarkan kebencian rakyat pada tokoh nasionalis lain seperti Sun Yat Sen, Chiang Kai Sek, juga sejumlah tokoh partai komunis. Kemudian ia pun membuat aliansi fasis bersama Jepang di bawah pemerintahan bodoh Nanjing Regime, mengijinkan Jepang berkuasa di Tiongkok. Sehingga pada akhirnya malah pemerintahan dia ini banyak membunuh orang Tionghoa yang anti-Jepang. Adakah Ester Jusuf kelak menjadi Wang Jingwei-nya Tionghoa di Indonesia dan menghabisi Tionghoa yang anti kawin campur dengan Fankui? Lihat saja aksi dia ini yang sama sekali tak ada hasil, anda sudah bisa terka.





