Satu lagi, adalah bahwa seseorang harus dapat menciptakan revolusi atas tanggung jawabnya sendiri, sesuai dengan kepercayaan sendiri dan memecahkan sendiri semua masalah yang muncul dalam revolusi, sesuai dengan kondisi khusus dan kepentingan negaranya.
Akhirnya, dia mengadakan pertemuan bersejarah dengan para kaum revolusioner generasi baru Korea, di Kalun pada bulan Juni 1930, dengan menyampaikan pidato yang berjudul, “Jalan Revolusi Korea”. Berdasarkan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, dia menciptakan Juche idea, suatu prinsip, dimana seseorang adalah tuan atas nasibnya sendiri dan memiliki kemampuan untuk mengeluarkan Songun idea, yaitu gagasan bahwa revolusi adalah suatu hal yang dirintis, berkelanjutan dan dicapai melalui kekuatan senjata, yang didasarkan pada ide Juche.
Sejak saat itu, revolusi Korea dapat bertahan sepanjang jalan kemerdekaan, berkat gagasan Juche idea dan Songun idea. Revolusi Korea, di bawah pimpinan Kim Il Sung, selama 15 tahun melancarkan perjuangan bersenjata yang panjang, memegang teguh bendera kemerdekaan, mengalahkan imperialis Jepang, dan pucaknya, memerdekakan Korea pada 15 Agustus 1945.
Jalan Demokrasi yang Diambil Korea
Munculnya perbedaan isme dan doktrin, usai pembebasan Korea, membuat masyarakat kebingungan. Pada saat itu, Kim Il Sung mengatur jalan demokrasi progresif sesuai dengan situasi Korea yang sebenarnya. Komponen terpenting dari demokrasi progresif adalah kemerdekaan, yang bertujuan untuk membangun Korea yang baru dalam segala hal, dengan berdiri secara independen dan sikap kreatif, menolak setiap ketergantungan pada negara luar atau subordinasi pada mereka.
Pembangunan masyarakat baru di Korea mengikuti jalan demokrasi progresif yang dikemukakan oleh Presiden. Reformasi demokratis, sebagai tugas anti-imperialis, dan anti-feodal mulai diberlakukan. Reformasi tanah dilakukan untuk menghapuskan kepemilikan tanah feodal dengan mengubah petani menjadi sang pemilik tanah. Perempuan, secara hukum diberi hak yang sama dengan laki-laki berkat undang-undang tentang kesetaraan gender. Hukum tenaga kerja diproklamasikan, untuk memperkenalkan delapan jam sistem kerja dan sistem cuti. Atas dasar reformasi demokratis ini, DPRK, yang menjadi negara demokratis pertama bagi masyarakat Timur, berdiri pada bulan September 1948.
Drama Heroik Dalam Mempertahankan Kedaulatan
Pada bulan Juni 1950, negara imperialis Amerika Serikat memprovokasi perang agresi terhadap DPRK, dalam upaya untuk mewujudkan ambisi liar mereka untuk supremasi dunia. AS memancing perang kecil di semenanjung Korea, dengan menempatkan tiga kekuatan militer dari 15 angkatan bersenjata mereka, pasukan Korea Selatan dan bahkan sisa-sisa bekas tentara Jepang, dengan jumlah amunisi lebih dari 73 juta ton. Saat itu, rakyat Korea berdiri di persimpangan jalan, apakah mereka ingin kembali menjadi budak dari imperialisme, atau membela martabat mereka sebagai manusia yang independen.
Presiden Kim Il Sung membangkitkan angkatan bersenjata dan masyarakat Korea, ke dalam perjuangan heroik untuk mempertahankan kedaulatan. Selama perang, dia berkeliling lebih dari 20.480 km, menantang hujan bom dan granat, dalam rangka memberikan pembinaan lapangan pada 1.056 unit tentara, baik di garis depan maupun belakang, dan memberikan strategi dan taktik yang unik, guna memimpin tentara rakyat dan masyarakat meraih kemenangan di medan perang.
Selama tiga tahun perang Korea, Amerika Serikat kehilangan 1.560.000 pasukan, lebih dari 12.200 pesawat tempur dan peralatan lainnya, dan akhirnya, harus menandatangani perjanjian gencatan senjata, dengan mengakui kekalahannya dalam perang. Negara DPRK, yang masih seumur jagung, berhasil mengalahkan Amerika Serikat, yang membanggakan diri sebagai yang terkuat di dunia.
Dasar Ekonomi Independen Dibangun
Sejak hari pertama berdiri, DPRK secara konsisten berpegang pada garis pembangunan perekonomian nasional yang independen. Independensi ekonomi nasional Korea Utara saat ini berada dalam posisi untuk membangun satelit bumi buatan, yang sepenuhnya dilakukan berkat usaha dan teknologi sendiri.
Hasil ini tidak datang dengan sendirinya. Setelah perang Korea, pendukung ekonomi terpadu di negara sosialis memaksa DPRK untuk bergabung dengan COMEON, yang malah kerap memberi hambatan dalam pembangunan ekonomi. COMEON bahkan tidak mematuhi kontrak mengenai baja dan mesin yang sudah ditandatangani.
Hasil ini tidak datang dengan sendirinya. Setelah perang Korea, pendukung ekonomi terpadu di negara sosialis memaksa DPRK untuk bergabung dengan COMEON, yang malah kerap memberi hambatan dalam pembangunan ekonomi. COMEON bahkan tidak mematuhi kontrak mengenai baja dan mesin yang sudah ditandatangani.
Presiden Kim Il Sung dengan tegas menolak permintaan para kekuatan besar, yang bersifat chauvinisme, dengan menyerukan pada para kelas pekerja dan masyarakat Korea untuk mengatasi kesulitan dengan semangat kemandirian. Dengan hati tulusnya dalam menyerukan kemandirian tersebut, rakyat Korea berhasil mengembangkan perekonomian dengan kecepatan pertumbuhan rata-rata, 19,1% tiap tahunnya, yang menjadi rekor dalam sejarah industrialisai Korea dalam 14 tahun terakhir.
Lompatan pertumbuhan ekonomi tercapai, berkat solidnya perekonomian nasional independen DPRK, yang dapat menyediakan bahan-bahan dasar sendiri, bagi kemerdekaan politik dan pertahanan diri dalam sistem pertahanan nasional. Sebagai hasilnya, sosialis Korea tidak pernah tersentak, bahkan dalam kekacauan runtuhnya sosialisme di negara bekas Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur lainnya pada akhir 1980 dan awal 1990-an, berkat keteguhan sikapnya pada bendera independen.
Hari ini, berkat panji-panji independen yang diperjuangkan Presiden Kim Il Sung, telah menjadikan Korea Utara suatu kekuatan independen yang tak terkalahkan.


